Jumat, 21 November 2008

Senin, 17 November 2008


Terrano yang Siap Berenang

Muhammad Ikhsan - detikOto

Jakarta - Hujan, becek nggak ada ojek, salah satu lirik lagu yang dilantunkan artis cantik yaitu Cinta Laura, nampaknya hukum itu tidak berlaku bagi Andri. "Tenang aja bro, ngga usah bingung kan ada boil gw yang siap menerabas medan becek, bertanah dan banjir sekalipun," ucap Andri Pemilik Nissan Terrano Spirit S kepada detikoto, Minggu (9/10/2008) .

Masuk musim hujan banyak jalan-jalan tergenang air yang tinggi, bahkan air setinggi pinggang orang dewasa diterabas dengan enteng mobil bikinan Jepang yang sudah dimodifikasi bergaya off-road itu.

Andri juga salah satu anggota Terrano Owners Club (TOC) ikut meramaikan Indonesia Consumunity Expo (ICE) dengan membuka stand di Senayan 8-9 November lalu mengatakan, kunci meninggikan bodi Terrano dengan menitikberatkan pada kaki-kaki dan under carriage. Meliputi drop kit, lower arm, upper arm, coil spring, leaf spring, shock absorber, shock steering, bumps stop, trackbar dan rear shackle.

Body lift Terrano yang dinaikan sebanyak 8 cm dan didukung dengan shockbreker merek Procomp. Hasilnya lumayan tangguh, dan untuk torsi per depan dinaikan 80 persen biar rata dengan belakang. Walaupun agak keras dengan bantingannya tetapi mobil ini sangat efektif untuk medan berpasir.

Untuk roda gerak sementara Andri mempercayakan 2 wheels drive pada roda belakang Terrano. "Nanti ke depannya ada rencana untuk diubah menjadi 4 wheels drive untuk menambah performa Terrano gw," ucap Andri. Pilihan pada ban, warga Bogor ini menggunakan ban ukuran 31 Savero dengan diameter 10.5 dipadukan dengan Velg Cobra ring 15 dan diameter 10 inci.

Pada sektor mesin, Andri juga masih mempercayakan kekuatan Nissan Terrano Spirit dengan kapasitas mesin 2.389 cc dengan 4 silinder water cooled yang mampu menyemburkan tenaga 118 hp, hanya mengaplikasikan belalai gajah alias snorkle pada dapur pacu. "Agar siap diajak berenang sekalipun," tegas Andri. ( tbs / tbs )


Jumat, 23 Mei 2008




Terrano Owners Club di Otobursa 2008

Acara tahunan Otobursa yang diadakan Tabloid Otomotif yang lebih dikenal sebagai “Tumplek Blek” merupakan perhelatan akbar bagi penggemar kegiatan otomotif. Mulai dari klub, modifikator, pebengkel, pedagang, hobbiest seakan benar-benar tumplek blek. Onderdil baru dan bekas, barang-barang hasil fabrikasi, parts langka digelar di lapak-lapak yang disewa.
Tahun ini acara Otobursa berlangsung pada tanggal 10 & 11 Mei 2008.
Terrano Owners Club (TOC) memanfaatkan momen ini sebagai ajang untuk memperkenalkan diri ke publik untuk pertama kalinya. Dengan tujuan perkenalan tersebut dan bekerja sama dengan produsen peralatan kegiatan outdoor Coleman, TOC menggelar lapaknya menempati stand D21. Dilatarbelakangi banner yang dibuat khusus untuk acara ini dan warna-warni back drope serta LCD projector dan musik yang menghentak-hentak dan barang-barang pajangan Coleman, stand TOC menjadi perhatian pengunjung Otobursa.
Klip-klip video kegiatan-kegiatan TOC yang pernah dilakukan dengan latar belakang musik cadas yang dikemas oleh Andry seakan memukau banyak pengunjung. Tercatat 43 orang mengisi buku tamu dan menyatakn diri ingin bergabung dengan TOC. Sebagai imbalannya, sekeping CD berisi klip tersebut dan selembar sticker sebagai gantinya.

Budhi Prabowo


Kamis, 21 Februari 2008

DASAR-DASAR FOURWHEEL DRIVE




1. TRAKSI vs TORSI

Untuk menjalankan sesuatu (kendaraan) kita memerlukan kaki atau roda dimana kita mengubah tenaga menjadi sebuah pergerakan. TRACTION (TRAKSI) adalah gaya gesekan antara roda dan permukaan jalan. Traksi diperoleh dari koefisien gesek antara roda dan permukaan jalan dipadukan dengan luas permukaan ban serta beban pada ban tersebut.
Apabila roda tidak mendapatkan traksi maka kendaraan kita tidak dapat berjalan.
Sedangkan TORQUE (TORSI) berarti gaya-putar yang membuat roda berputar. Torsi adalah gaya yang dihasilkan dari sumber tenaga (mesin) terhadap gesekan (traksi). Bila tidak ada gesekan maka tidak ada torsi. Roda dengan gesekan besar atau kendaraan dengan beban berat membutuhkan torsi yang besar untuk menggerakkanya.

Bila Traksi lebih kecil dari Torsi, maka roda akan spin. Kita menyebutnya “roda kehilangan traksi. Maka untuk kembali mendapatkan traksi tersebut, sesuai dengan definisi diatas, kita dapat mengurangi torsi dengan menurunkan gas atau memperbesar permukaan gesek ban dengan mengurangi tekanannya

Akan halnya kendaraan yang tidak bisa berjalan karena gesekan yang besar (baca beban yang berat) atau mendaki, maka yang diperlukan adalah torsi yang lebih besar untuk mengatasi gesekan tersebut. Untuk mengatasinya kita menambah gas.

Jadi, jangan tertukar antara pengertian TRAKSI dan TORSI.


2. TRAKSI PADA KENDARAAN TWO WHEEL DRIVE (2WD)
Pada gambar 1 di atas, untuk menggerakkan kendaraan kita anggap tiap roda mempunyai traksi 100 unit. Jadi keseluruhan traksi pada keempat roda adalah 400 unit. Karena kendaraan 2WD, hanya 2 roda yang digunakan untuk menggerakan kendaraan. Sehingga Torsi dari mesin hanya akan diberikan pada 2 roda. Misalnya pada keadaan di atas diperlukan torsi 140 unit dengan untuk mengatasi traksi 200 unit, maka terdapat sisa traksi 60 unit (traksi positif). Kendaraan bisa berjalan.

Pada gambar 2 di atas, keadaannya sebagai berikut. Karena licin maka, maka setiap roda hanya memberikan traksi sebesar 50 unit atau 100 unit yang diperlukan untuk memutar 2 roda. Maka dengan torsi 140 unit akan terjadi kekurangan 40 unit (traksi negatif) dan roda akan spin dan kendaraan tidak mau bergerak. Contohnya berkendara di pantai. Karena pasir pantai memberikan traksi yang kecil, maka roda spin dan kendaraan stuck.
Pada gambar 3 keadaanya adalah dengan beban berat atau menanjak, misalnya torsi yang diperlukan misalnya 220 unit, maka dengan traksi setiap roda sebesar 100 maka akan terjadi kekurangan 20 (traksi negative) dan roda akan spin dan kendaraan tidak mau bergerak. Contohnya berkendara mendaki bukit, karena torsi yang besar, maka roda spin dan kendaraan tidak bergerak.
3. TRAKSI PADA KENDARAAN FOUR WHEEL DRIVE (4WD)
Pada gambar 4 kendaraan 4WD, torsi dari mesin akan diberikan ke 4 roda secara merata dengan menggunakan traksi keempat roda. Maka pada kondisi tersebut traksinya adalah 400 unit. Dikarenakan torsi yang diperlukan untuk menjalankan kendaraan hanya 140 unit, maka ada sisa traksi sebesar 260 unit (traksi positif). Kendaraan berjalan.


Gambar 5.

Pada gambar 5 kendaraan di atas permukaan licin, setiap roda hanya memberikan traksi sebesar 50 unit. Dengan torsi 140 unit dari mesin dibagi rata ke semua roda, maka akan didapat hasil traksi 60 unit (traksi positif). Kendaraan berjalan.



Gambar 6.

Pada Gambar 6 kendaraan dengan beban berat atau menanjak dimana diperlukan torsi sebesar 220 unit untuk menggerakkan kendaraan. Maka pada setiap roda traksinya adalah 45 atau secara keseluruhan 180 unit (traksi positif). Kendaraan berjalan.

4. KESIMPULAN

1. Untuk menggerakkan kendaraan selalu diperlukan traksi yang positif.
2. Dengan keadaan yang sama dan kondisi torsi mesin yang sama, kendaraan 4WD memberikan traksi yang lebih besar (jaminan kendaraan untuk tetap bergerak lebih besar).


BP270108

Selasa, 19 Februari 2008

Bumi Perkemahan Palutungan – Gunung Ceremai

Katanya Gunung Ceremai itu bagus dan indah. Untuk membuktikan ucapan itu , 9 TOCers berangkat menuju Bumi Perkemahan Palutungan di kaki Gunung Ceremai – Kuningan , Jawa Barat , 1 hari sesudah Hari Raya Imlek , tepatnya tanggal 8 Februari 2008 . Ditemani derasnya “hujan rejeki Imlek “ , 9 TOCers memilih tol Cipularang dilanjut masuk tol Padaleunyi langsung menuju jalan berkelok dan mendaki menuju Sumedang dan Majalengka. Tol Cirebon menjadi pilihan untuk mempersingkat jarak tempuh mengingat hari sudah larut malam. Tepat jam 22.20 malam , 9 TOCers sampai dilokasi perkemahan hutan pinus Palutungan pas di kaki Gunung Ceremai itu.


Paginya sekembalinya dari melihat kota Kuningan , 4 TOCers mencoba jalan tahan menuju puncak Gunung Ceremai ditemani penduduk setempat dengan membawa Terrano masing-masing. Jalan tanah yang basah , jalur tempuh yang sudah ditumbuhi tumbuhan hutan menjadi penasaran 4 TOCers untuk mencoba menembusnya. Berkat kekompakan dan peralatan evakuasi yang dibawa, akhirnya 4 TOCers kembali ke base camp lewat magrib. Minggu 10 Februari 2008 , 9 TOCers bergerak pulang melewati Waduk Darma untuk bergabung dengan 1 TOCers yang lain , dan memilih jalur Subang untuk kembali ke Jakarta.
Ternyata Gunung Ceremai memang BAGUS , INDAH dan DINGIN.

Gunung Ceremai :driving thru the pine trees



,February 2008





DAPUR UMUM : oleh-oleh dari Gunung Ceremai

10 Februari 2008 : Gelap masih menyelimuti pagi subuh , Ibu Wawan dan Martha sudah bangun, yang dicari adalah kompor untuk mulai memasak air dan memotong pisang , mencari terigu , pertanda pagi akan dijelang. Air sudah mulai mendidih, bunyi minyak panas bertemu dengan adonan pisang goreng membuat rekans yang lain mulai keluar dari tenda masing-masing . Satu persatu merapat mendekati dapur umum darurat , dengan sabar menunggu air mendidih dan pisang goreng matang untuk membuat sekedar kopi panas atau teh manis hangat. Cemilan pagi sudah siap disantap panas-panas untuk menghalau rasa lapar dan dingin malam tadi.
Di dapur umum, semua berkumpul.


Di dapur umum, semua berkumpul.

9 Februari 2008 : “Tinggal mobil pak Gerry , gak usah nyusul , kami segera turun” kata Andri melalui komunikasi radio. Tetapi tidak menghentikan kegiatan Ledi, Silvy, Dessy, Lina dibawah komando Ibu Yati Kamil menyiapkan menu tumis buncis , goreng ikan mas, ikan asin untuk santapan makan malam . Ledy dan Dessy didepan kompor , Lina sibuk dengan air, sabun cuci dan barisan piring kotor, Silvy dibantu Mar diasyikkan dengan pisau dan bahan mentah yang harus disiapkan untuk dimasak, Ibu Kamil memang ahlinya mengkoordinir para ibu’s di dapur umum sore itu. Sesudah kembali dari light offroad, semua rekans berkumpul di dapur umum untuk menyantap menu makan malam yang masih hangat.
Di dapur umum, semua berkumpul.

Semua kumpul
di dapur umum
apa saja ada
ada nasi , lauk pauk, kopi , teh
pisang goreng, jagung rebus, peuyeum goreng, kacang rebus
di
DAPUR UMUM